SEPERTI ADA YANG HILANG



Kita tidak akan berbicara tentang bagaimana kamu bisa menjauhiku dengan alasan yang hanya bisa aku tebak, atau berbicara tentang siapa yang mengenal satu diantara kita lebih dulu.

Aku tidak mau membahasnya. Biar aku yang menanggung rasa sepinya, biar aku yang menyimpan rasa kalutnya. Karena seberapapun panjang aku menjelaskannya, kalau tidak mengalami sendiri kamu pun tidak akan pernah mengerti.

Tentu saja, aku tahu kamu akan pergi, hanya saja aku tak menyangka akan secepat ini. Dari awal, aku sudah belajar ikhlas. Bukan saat kamu memutuskan pergi begitu saja, tapi justru sejak awal aku mendatangimu. Mungkin karena aku sudah belajar dari pengalaman, kalau orang, secinta-cintanya kita atau mereka, bisa datang dan pergi dengan mudahnya. Karena pertemuan ada untuk menjemput perpisahan.

Sebetulnya, kamu selalu ada di sini, di dalam sini. Tapi aku merasa seperti ada yang hilang. kamu masih seperti dulu, dengan karakter yang aku kagumi. Mungkin cara komunikasimu saja yang sudah berubah.

Semua masih baik-baik saja, menanyakan perihal keperluan penting, dan mungkin bisa menanyakan kabar keluarga, aku masih menikmatinya. Tapi mungkin cara penyampaiannya sekarang yang berbeda ketimbang waktu itu. Tanpa emoticon dan terkesan flat, mungkin kamu membalas pesanku karena tidak enak saja. Ya, aku hanya berfikir demikian.

Kamu tahu, kamu masih istimewa. Berkat kehadiranmu, aku lebih bisa melihat banyak kekurangan yang ada pada diriku, lalu aku berusaha untuk merubahnya. Aku merubahnya bukan untukmu, tapi aku merubahnya karena itu perlu untukku.

Aku hanya merasa ada yang hilang. kadang-kadang kangen rasanya, ketika bercanda, setiap kamu tertawa, dan mataku selalu berbinar melihatnya. Bercerita tentang apa saja yang tidak membuatku bosan mendengarkannya.

Tapi, sekarang aku juga merasa bahwa ya, perlahan aku mulai melepasmu. Karena melihat seistimewa apapun kamu di depanku, perasaanku sudah mulai biasa saja. Aku berhasil memadamkan setiap percikan apa saja yang bisa membuatku kembali jatuh cinta dengan begitu mudahnya. Tidak seperti waktu itu, mendengar namamu disebut saja, bisa seharian aku tidak lupa.

Sebetulnya, aku tidak mau kamu melupakan segalanya tentangku, termasuk perasaanku yang sekeras kepala itu. Tapi aku tidak memaksamu untuk melupakan itu, aku juga tidak akan bersikeras mengatakan, jangan lupakan perjuanganku. Ketika aku memikirkan hal itu, aku hanya berkata, “sudah malam, waktunya istirahat...”

Aku masih ingat waktu itu, dipercakapan pesan singkat, katamu, lebih baik berpisah lalu dipersatukan. Apa kamu masih ingat? Oke, Yasudah aku juga tidak mau memaksamu untuk mengingat-ingat lagi. Aku hanya ingin memberitahu lagi kalau kamu pernah berkata seperti itu.

Ya, ketika sudah saatnya, ketika sudah waktunya, ketika semua sudah tertata dengan rapih, semua perihal ekonomi dan ilmu yang sudah mumpuni. Aku akan menepati janjiku waktu itu, pintu pertama yang aku datangi bersama keluargaku adalah pintu rumahmu.

Aku hanya merasa ada yang hilang, tapi sebetulnya kamu tak kemana-mana, kamu masih di sini. Hanya saja sekarang aku hanya mengurangi rasanya, memperkuat doa’nya. Aku selalu berharap yang terbaik, tapi juga belajar untuk siap mengahadapi kemungkinan terburuk.

Kamu jangan lupa kembali. Aku selalu ada ketika kamu membutuhkanku.

ini hanya sementara



Aku tahu, semua ini akan terus berjalan selain waktu, yaitu adalah perasaan dan cara kita untuk berpikir. Jika waktu bisa dihentikan, aku lebih suka seperti ini, mengamatimu dari kejauhan, memperhatikanmu dalam diam. Teman-temanku pernah bilang, kalau aku terlalu lama untuk mengatakan semuanya, mengatakan yang sebenarnya. Ya aku paham.

Mungkin memang terlalu bodoh terus menunggu, dan mungkin aku memang tak pintar untuk menunjukkan. Aku bisa saja memberi perhatian, tapi aku tak seperti itu. Aku sedang senang memperhatikanmu dari kejauhan, menghafalkan setiap tingkah lakumu, seperti berbicara dengan sahabatmu, caramu menatap orang-orang disekitar, ya, hal-hal seperti itu. Bahkan jika aku beruntung, aku bisa mendekatimu dan mendengar suaramu, jika beruntung.

Sebetulnya aku bisa saja berteriak keliling kelas untuk mencari perhatianmu, tapi tidak. Aku tidak akan melakukannya. Atau, memberimu buku-buku bagus yang sudah pasti kamu suka, ah, aku ingin sekali hal itu, memberi kejutan-kejutan kecil untukmu. Tapi tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Atau aku juga bisa mengobrol lewat WhatsApp atau BBM untuk sekedar bersapa, “hai, lagi apa?” lalu kamu membalas pesanku. Nomor teleponmu? Dan Pin BBMmu? Aku sudah lama mencari tahu, aku sudah tahu semuanya. Tapi tetap tidak. Aku tidak akan melakukannya. Aku sudah bilang bukan? aku tidak akan mencari perhatianmu, aku lebih suka seperti ini, memperhatikanmu sembunyi-sembunyi.

Terkadang, godaan begitu besar untuk menunjukkan betapa ingin sekali aku melihatmu sepanjang waktu, dan berbincang denganmu. Atau kita bisa berjalan-jalan menikmati sore hari di taman,berlama-lama mengobrol tentang suatu hal, memandangimu saat tertawa dan berdebar-debar ketika matamu berkilauan terkena matahari atau lampu kota. Aku tidak bisa bohong dengan itu, aku benar-benar ingin melakukan banyak hal denganmu.

Sayangnya, aku tak bisa melakukan itu, kalau aku melakukannya, mungkin sama saja aku melukai hatiku sendiri. Jadi ya, biar saja seperti ini, menjadi seorang yang menperhatikanmu sembunyi-sembunyi. Aku terlalu takut, karena mungkin kamu mempunyai banyak alasan untuk menolakku, jadi ya lebih baik seperti ini, mungkin ini hanya sementara.

Jika ada yang bertanya, apa aku tidak lelah seperti ini? jawabannya, tentu saja lelah sekali. Tapi keinginanku untuk mengetahui semua hal tentangmu tidak bisa berhenti. Jadi, tidak masalah. Ini hanya sementara.

Waktu terasa cepat sekarang, beberapa bulan atau minggu lagi kita akan berpisah, dan dunia baru saja dimulai. Entah kamu mau melanjutkan kemana, mencari kerja atau mencari tempat untuk meperdalam ilmu-ilmu yang kamu rasa kurang. Jarak bukan masalah, tapi mungkin komunikasi kita, dibagian itu.

Semua yang sebenarnya aku lakukan itu memang tak ada gunanya. Mencari tapi sembunyi-sembunyi. Memang sedih ya, hati terlalu sering mengelabui logika. Logikaku tahu, kamu akan pergi dan tidak akan pernah mencariku, tetapi hati mengatakan,tunggu dulu, aku belum merampungkan semuanya, berilah sedikit waktu.

Aku takut, logika mungkin akan selalu memberikan faktanya. Tapi aku berharap logikaku salah besar. Dan itu semua ada di dalam diri kamu.

Aku akan terus menunggu, tentang berpisah? mungkin ini hanya sementara.

“kalau hari ini adalah hari terakhir kita untuk bertemu dan berbicara, aku berpesan jaga dirimu baik-baik”

Aku Jadi Imamnya Ya?


Hai puan,
Kau tahu bagian paling menyenangkan dari kesendirian?
Ya, mengenangmu sepuasnya.

Perihal orang-orang yang mencintai kesedihan,
Dalam kensunyian, dia menghapus kesedihannya di depan cermin.
Di tempat yang berbeda, kita saling bercerita.
Kau dan dia berpelukan, menari-nari di atas statusmu sekarang.
Kau telah resmi menyandang gelar ratu untuk lelaki itu.

Aku tak bisa berbuat banyak, usahaku kalah telak.
Disini aku sibuk mencabuti waktu,
Mensyukuri nikmat rindu yang menjadi alasan untuk kita bertemu.
Aku tak pernah merasa kesal, karena kau telah memilihnya.
Yang aku sesalkan hanyalah aku tak pernah mebuatmu bahagia.

Air mata mengisyaratkan tumbuhnya luka,
Ada kehilangan yang terselip di mataku.
Mengertilah puan.
Buatlah aku semakin tabah.
Ajari aku untuk mengikhlaskan dirimu.

Ingatlah kembali bagaimana bahagianya kita dulu.
Lebih riang dari anak kecil,
Bermain di tengah jalan tanpa mengenal bahaya.
Aku menunggu puan, menunggu.
Janur kuning itu belum melengkung, dipasang saja belum.

Ingatlah aku pernah berjanji,
Aku akan mengatakannya di suatu saat nanti.
“Aku jadi imamnya ya?” apa kau masih ingat?
Dan kau pun tersenyum, dan menjawab iya dengan suara yang lembut.
Dan sekarang aku malah takut.

Sadarlah puan, kesempatan kedua sedang berlari.
Aku sudah siap untuk mendekatimu sekali lagi.
Bila nanti, lelaki itu kau jauhi.
Jangan pernah lupakan masa lalu yang sedang kau tangisi.

Aku rasa, waktu itu kita lebih baik mencoba bertahan terlebih dahulu.

Surat Untuk Si Perempuan



Tetiba aku merindukanmu, siang hari menuju petang, senyummu masih membentang dalam ingatan. Perempuan yang parasnya selalu menggantung dipikiran, membuatku lupa arah jalan pulang.

Entah perkenalan singkat malam itu, membentuk kisah tersendiri dalam buku baru didalam kalbu. Setiap malam, kutatap layar ponselku, mengharap pesan balasan darimu. Malam ini gelap semakin pekat, cahaya lampu pijar semakin meramaikan sudut kota.

Keasyikanmu terlalu membunuh jiwa humorisku, aku tak menyangka akan se-senang ini. mungkin dipikiranmu, aku terlihat bodoh, semata-mata aku ingin terus mengabadikan senyum konyol dan tawa bahagiamu itu, bahkan untuk bertindak dewasa saja aku tak sempat.

Kesenanganku terhadapmu tak berbeda jauh dengan kesenanganku terhadap kopi, ini adalah obat patah hati terbaik. Ingin sekali aku dan kamu duduk bersama, menyandingkan dua cangkir kopi dalam satu meja. Mungkin bila nanti akhirnya bukan aku yang kau pilih, setidaknya kopi kita pernah bersanding di satu meja berbagi perasaan bertukar pikiran.

Malam ini, setelah bercumbu dengan secangkir kopi Toraja, aku mulai mulai melukiskan kata-kata, memanggil hadirmu yang pernah melibatkanku pada sebuah kesedihan yang menimpamu. Kau selalu berhasil menyalakan bara dalam ingatan yang memuai bersama lahar kecemasan.

Bersamaan dengan ampas kering di dasar cangkir, goresan tentangmu kembali ku ukir.

Tulisan adalah cara terbaik untuk berperilaku jujur, setidaknya pada diri sendiri. Sebenarnya, masih banyak yang ingin kutuliskan semua yang ada dalam pikiran, tapi setelah ku pegang pena, hilang semua akal. Gemetar tanganku. Setelah aku tahu, teringat bahwa kau sedang memiliki hubungan spesial dengan lelaki yang juga baru kau kenal. Niatku untuk menulis buyar dengan hebohnya.

Yang tersisa hanyalah kecemasan yang mengaratkan kerinduan, membisukan suara hati yang merintih perih, meneriakkan kebohongan, “aku bisa rela hidup tanpa kehadiranmu.” Semua perasaan terlepas begitu saja.

Ini, peganglah dan bawa pulang suratku ini. bacalah dengan hati yang suci, disana banyak perasaanku yang ingin berteduh di hatimu, dari kisah bahagianya aku dulu, sampai berdukanya aku yang sekarang.

Bila kau tertarik ingin membaca, bacalah. Aku takkan memaksa. Keputusanmu selalu aku terima, lagipula tak ada lagi yang harus diperjuangkan dari hati yang sudah dimiliki. Maka sebelum tulisan menjadi tangisan, lebih baik aku hentikan. Semoga setelah ini pelangi akan selalu menghiasi duka dan menerbitkan asa, karena semesta selalu berpihak pada yang berhak, termasuk aku dalam hal mencintaimu, dan kamu dalam hal mencintainya.

Aku tak tahu bagaimana cara merayakannya. Selamat menikmati patah hati, untukku dan hatiku sendiri.

Setelah Itu Ada Yang Datang


Perempuan adalah mahluk terbaper sepanjang sejarah. Saat ia kehilangan arah, kesedihan pasti datang di kedua matanya yang kian me-merah.

Hujan di malam hari, siap menemani hati yang dilanda sepi sampai pagi. Mungkin ini pertanda bahwa ada patah hati yang muncul terlalu pagi. Aku tak bisa tidur semalam, saat mataku menangkap senyummu, berdebar rasanya.

Ada sesuatu yang mengganjal dipikiran, apa kau tak muak melihat muda-mudi betapa bahagianya  mereka mempunyai kekasih, padahal untuk memakai baju saja masih meminta bantuan Mami? Jika iya, kita mempunyai pemikiran yang sama. Bahwa cinta ada untuk menjaga kenyamanan, bukan gelora kejuaraan untuk dipamerkan dan disombongkan.

Begitulah aku, menertawai kisah mereka.

Menangisi dahulu yang kini menjadi luka.

Malam itu, kesedihan muncul di paras cantiknya. Melunturkan karunia yang Tuhan berikan.

Kudengar kau tengah mengalami kebingungan hati, jika benar begitu, kemarilah, singgahlah sejenak dan nikmatilah pahit termanismu. Duduk yang tenang, dan jangan panik. Biar aku seduhkan kopi untuk menemani sedihmu. Pahit memang, yang maniskan senyummu, kau lupa ya?

Hei, lihat lah cermin, perhatikan baik-baik, bisa-bisanya paras mempesona itu lupa cara bahagia? Bila kau lupa membawa cermin, jangan khawatir. Mendekatlah, aku bersedia di sampingmu saat kau sedang buruk rupa. Berkacalah di bola mataku, disitu kau selalu mempesona, cantik seperti biasanya.

Berceritalah panjang lebar, telingaku terbuka untuk cerita-ceritamu. Jika kau ingin marah, bagikan kepadaku jangan kau simpan sendiri. Bila kau merasa sedih bagikan kepadaku, agar aku bisa ikut merasakannya. Ambilah hariku untuk kebahagiaanmu, karena kesedihan itu fana, bahagia yang abadi.

Tak ada lelaki yang bisa menandingi kesabaran yang aku punya, setelah itu ada yang datang diceritamu, sosok yang kau tangisi baru saja kau sebutkan namanya, kau menceritakan dia didepan mataku. Tak bisa rela katamu, lelaki yang kau puja ingin pindah ke lain kota.

Se-sayang itu dirimu? Hei lihat lah diriku, yang masih tegar walaupun wanita pujaan nya kelain hati, bukan hanya sekedar pindah ke lain kota.

Aku mencoba menenangkan perasaanku dan kesedihanmu, apa kau bisa menahan kesedihan sendirian? Cobalah simpan kesedihanmu, bela lah perasaanku sesekali. Kau seharusnya paham, selalu ada hati yang miris dibalik orang humoris.

Saat ini aku sedang menertawai tangis, menangisi tawa.

Kesedihanmu tak seberapa dengan kesedihan yang aku alami. Mungkin kau memang tidak tahu, memang sakit cinta dalam diam.

Diam-diam sayang.
Diam-diam cinta.
Diam-diam kau duduk di pelaminan.


Hal paling terkejam dari perasaan adalah mencintai diam-diam namun mengharap ditemukan.

Tanggal Ku Turun Ke Bumi


Dari sana, tempat dimana kembang api bermunculan tanpa henti, melepaskanku penuh keikhlasan untuk turun ke bumi. Aku tak pernah paham mengapa Tuhan menciptakanku, mungkin ada sesuatu yang spesial, dan Tuhan menyuruhku untuk mencari tahu. Di tempat yang terbangun oleh sayap rapuh kupu-kupu, aku meminjam debu untuk terus ikut menempel disetiap kepaknya. Dengan rasa penuh harap, dari sana mungkin aku bisa mencari jawabnya.

Penantian panjang ibu dan bapak telah bermuara dihari itu, segala rindu ingin jumpa bercampur aduk dengan rasa bahagia, haru dan duka. Tangisan pertamaku sangat merdu di telinga mereka, seakan mereka ingin cepat memeluk tubuh lemahku. Mungkin aku tak paham, mengapa mereka tersenyum melihatku.

Semua sanak saudara mengucapkan selamat, ibu dan bapak dihari itu telah resmi mempunyai jagoan kecil, lelaki gagah yang tumbuh menjadi pria pemberani kelak. Dan mulai hari itu, semangat seorang bapak menjadi lebih giat, apapun ia lakukan demi kesehatan dan tumbuh kembang seorang anak pertamanya.

Hari begitu sangat cepat berlalu, berkat kasih sayang ibu dan bapak, aku bisa merasakan sekolah. Mengenal huruf, angka, dan beberapa hewan yang kupandang aneh saat itu. Aku masih ingat betul, ketika aku belajar membaca bersama ibuku di rumah, ibuku selalu mengiming-imingkan sesuatu yang kusuka, agar semangatku untuk membaca akan terus berpacu.

Menginjak bangku sekolah dasar, mengenal teman adalah kewajiban yang harus dilakukan, kata ibu. Aku selalu dituntut untuk berteman dengan siapa saja. 6 tahun berlalu, di sekolah dasar kurasa cukup untuk naik ketingkatan selanjutnya.

Tak terasa aku sudah menginjak bangku di kelas 7 sekolah menengah pertama. Dari situ aku mulai mengerti sifat manusia satu-per-satu, aku mengerti bahwa berbagi sangatlah berarti, aku mengerti apa yang guru tugaskan, sudah kewajiban murid untuk mengerjakan, dan aku mengerti bahwa dibalik tugas ada hukuman yang selalu menghantui.

Beberapa tahun berlalu, sekolah kejuruan memang impianku. sampai akhirnya tulisan ini dibuat detik-detik dimana aku menginjak usia 17 tahun, aku bersyukur bahwa selalu ada kisah di masa lalu yang asyik untuk dibicarakan. Aku tak pernah paham bagaimana Tuhan menciptakan hati untuk akhirnya setiap manusia memiliki perasaan.

Walau kini segalanya telah mengalami perubahan, aku masih saja menyimpan sifat kekanak-kanakan. Terus memohon agar Tuhan membantuku terus berjalan di jalan pendewasaan.

Pukul setengah dua belas malam ini, dari kamar yang berpenghuni diriku seorang, aku memaksa menyelinap di antara semak-semak, menuju deret melintang nyala lampu kota, pikiran terus memaksaku untuk terus memikirkan bagaimana untuk terus hidup di masa depan, membahagiakan orang-orang yang kucintai, dan mencintai orang-orang yang kusayangi.

Diantara beribu doa, doa orang tua dan kalianlah yang membuatku se-semangat ini. terima kasih doa dan ucapannya!

Terima kasih, Terkasih



Ucap syukur, berterima kasih kepada Allah SWT sang Mahapemberi segala kisah, baik berujung sedih maupun berujung indah. Terimakasih telah memberi pelajaran bahwa setiap luka akan menambah ketabahan dan selalu ada keindahan untuk dikisahkan.

Untuk Ibu, perempuan satu-satunya di dunia yang tulus memberi banyak cinta, mengajarkanku sebuah arti sederhana, yang selalu memberi kasih sayang tanpa pamrih, dan memberi wejangan kala hati dilanda perih.

Untuk Bapak, lelaki hebat di dunia, menghidupkan keluarga kecil kami dengan keringatnya, yang selalu menyajikan riuh keluarga penuh rasa sayang, membuatku selalu rindu akan rumah terutama saat jauh dan lelah membutuhkan pulang.

Untuk Sahabat,Teman rumah, Kakak-kakak, juga adik-adik. Terima kasih telah memberi ruang untuk berekspresi yang begitu bebas dan selalu menjadi keluarga yang membanggakan. Semoga semakin asyik dan kita segera piknik.

Tim sepak bola Tunas Harapan FC, yang menjadi awal langkahku mengikuti debut pertamaku untuk berkompetisi tahun 2011 yang lalu. Terima kasih telah membuatku mengerti bahwa kompetisi itu fana, keluarga yang abadi.

Musisi Indonesia yang telah menciptakan lagu-lagu hebat pengusir kehampaan. Tanpa mereka, kesunyian tak akan pernah menyenangkan.

Teman-teman pembaca kisahku di blog, setiap orang yang pernah aku temui untuk berbagi cerita dan referensi tentang hati, terima kasih atas waktunya.

Guru-guru yang telah memberi sumbangsih besar terhadap kemajuan ilmu, terima kasih telah memberi seluruh ilmu untuk membangun masa depan kami. Pengalaman kalian telah menggurui kami.

Lalu kepadamu, yang pernah mengisi kekosongan hati kemudian pergi tanpa balas janji, terima kasih. Jika bukan karena luka yang kau beri, aku tak akan pernah bisa menulis sekumpulan kisah-kisahku ini.

Tulisanku biasa saja, senyum dan bahagiamu yang membuatnya sempurna.

Jakarta, 2016.

Sebuah Awal Dari Babak Baru


“Semoga tidak ada lagi kekecewaan yang berserakan di tahun ini”
Kamu pasti punya sesuatu yang bahkan kamu terus mencoba untuk menggapainya.

Aku pun demikian.

Tahun lalu biarlah berlalu,
Luka lama biarkan perlahan menghilang walaupun meninggalkan bekas. Ketahuilah bahwa sesakit-sakitnya rasa perih pasti akan hilang juga.

Mungkin di tahun kemarin, kamu memang sedang terpuruk. Sering terjatuh lalu menimbulkan luka. Tapi mungkin di tahun ini, di balik rasa letihmu, ada orang yang membantumu untuk berdiri lagi. Yang terus menuntunmu untuk berjalan perlahan, meninggalkan keterpurukan.

Saat itu kamu tahu, bahwa hidup itu untuk masa depan, bukan masa lalu.
Kamu dituntun untuk terus berjalan ke depan olehnya, berjalan mencari kebahagiaan bersama. Kamu juga pasti nanti akan berhenti di tengah jalan, dan teringat masa lalu. Tapi dia akan sering menegurmu, “sesekali ratapilah masa lalumu.” Lalu kamu pun tersentak dengan kata “ratapi” dan kamu pun berfikir kalau selama ini kamu memang membuang-buang waktumu untuk meratapi masa lalu, terus mengingat rasa sakitnya.

Tapi tak apa,
Dia percaya, kamu tidak akan balik lagi ke masa lalu, melebihi kepercayaan kepada dirinya sendiri.

Biarkan semua mengalir, sampai akhirnya untuk menoleh kebelakang pun, kamu hanya tersenyum, karena semua sudah tidak seperti dulu lagi. Masa lalu hanya pantas untuk di kenang dan mustahil untuk balik ke masa itu. pun jika bisa, semua tak lagi sama.

Kamu pun terus berjalan. 
Hidup memang penuh dengan lika-liku, banyak batu kerikil di jalan, teruslah berjalan. Dan jika suatu saat nanti kamu terjatuh, rasakan sakitnya dan jangan lupakan bahwa rasa sakit mu itu bisa sembuh dengan sendirinya, yang perlu kamu lakukan sekarang hanya berdiri lagi. Kejar kebahagiaanmu dimanapun ia berada.  Kali ini berjalanlah lebih cepat, kalau perlu berlarilah, sekencang yang kamu bisa. Nanti pada akhirnya kamu berhenti di titik yang paling nyaman dan kamu mungkin berkata, “ini, disini banyak kebahagiaan.”

Jika kamu sudah menemukan kebahagiaan pertahankanlah itu. Sekuat yang kamu bisa, pun jika itu kamu menemukannya, sebarkanlah. Jangan khawatir, kebahagiaan tidak akan pernah habis.
Jangan takut gagal untuk mempertahankan, setidaknya kamu sudah lebih baik dari masa lalumu bukan? Jadi, teruslah mempertahankan apa yang pantas untuk dirimu.

Dengannya, tahun ini kamu lebih berwarna. 
Jangan terus mengeluh, ia pasti akan selalu menemanimu. Yang senantiasa mebantumu untuk terus berdiri sampai berlari. Sampai kamu lupa bahwa kamu dulu hampir mati dibunuh sepi.

Kamu sudah punya kebahagiaan ditahun ini, kamu bisa bercerita dengan orang tua, sahabat dan teman mu. Kamu bisa menjelaskan seberapa sakit perjuanganmu untuk berdiri dan menjelaskan dengan rinci dan teliti, “Aku masih sayang, tapi aku sering sakit hati. ini semua karena ..." dan berakhir dengan, "Pada akhirnya aku bisa melepaskanya.” Senyuman membinar setelahnya.

Kamu pasti bahagia dengan kata akhir itu nanti, ada seseorang yang membantumu perlahan melepaskan setiap bayang yang telah meninggalkanmu dan menelantarkan hatimu yang berserakan. Yang teganya membuat luka yang lama sembuhnya. Ia selalu membantumu merapikan hatimu agar tetap utuh.

Cepat atau lambat ia pasti datang di waktu yang tepat. Dan aku percaya itu.

Aku menulis ini untuk diriku dan untukmu,

Jika kamu merasakan sakitnya terjatuh, bacalah tulisan ini. Setidaknya aku ingin membantumu menghilang rasa pedih dan perih, dan aku juga ingin membawa lari rasa sakit mu lewat tulisan ini.

Karena harapan dan angan-angan baru harus di tata dari sekarang, dan yang perlu kamu ketahui, kamu harus berubah, jangan cari diri kamu yang dulu di masa lalu.

Karena tujuanku membuat tulisan ini, ada di kalimat pertama yang aku kutip di atas.

Jakarta, 
8, Januari, 2016

Sulitnya Melupakanmu


“Ketika kutahu cinta berada pada suatu ujung yang tak menentu, maka aku kembali menyiapkan hati untuk sendiri lagi.”

Aku tak bisa bohong sekarang, sebaik-baik manusia adalah yang mampu jujur kepada hatinya sendiri. Maka, melalui tulisan ini aku berani mengungkapkan semua kerisauan yang setia memeluk pikiranku sejak lama.

Aku ingin jujur kepada hatiku sendiri. Bahwa, susah bagiku untuk melupakanmu.

Pernah di suatu malam, aku mengira bahwa melupakan seseorang adalah hal yang mudah, hal yang begitu sangat sederhana.

Pernah aku menduga, dirimu akan meninggalkan pikiranku dengan sendirinya.

Saat pada masanya kau meninggalkanku, aku tak perlu bersedih lagi. Sebab dengan terlelap aku dapat melupakan hal yang baru saja terjadi saat aku terbangun.

Namun aku keliru.

Sekarang, aku sesali rasa ini. rasa kesusahan melupakan seseorang. Semakin ingin melupakan malah semakin hadir. Semakin ingin menjauh justru kian medekat. Yang seharusnya ingin melepaskan, tapi terus merekat.

Aku tahu, bahwa ada sedikit perasaan yang kau tinggalkan. Andai kumiliki kuasa untuk memutar masa, maka akan aku hapus rasa terlalu cinta yang kini membuatku binasa.

Rintikan tangis bergelimang syahdu pada sudut kedua mata ini. Bagaimana tidak? Waktu dan jarak membawamu jauh dariku.


“Kau tak perlu melupakan masa lalu, kau hanya perlu menerimanya. Masa lalu akan tetap ada. Kau tak perlu terjebak di dalamnya”

Yang Datang Lalu Pergi


“Hati ini bagaikan rumah, bukan hanya sekedar tempat untuk bersinggah sementara waktu”

Ku tulis ini, untuknya yang pernah singgah lalu pergi. Membawa semua kebahagiaan dan semangat yang menumpuk di dada. Yang telah membuat luka tanpa ada obatnya.

Ku tulis ini, untuknya yang tiba-tiba menjauh. Berlari secepat mungkin tanpa sempat melirikku yang hanya berdiam diri keheranan di belakangmu.

Ku tulis ini, untuknya yang benar-benar lupa arah jalan untuk pulang. Tersesat diantara gundukan kekecewaan yang mengelilingi sanubari otakmu.

Maafkan aku yang pernah membuatmu kecewa. Yang telah membuatmu pergi dari ruangan megah yang kusebut hati.

Jika ingin pergi, tolong tinggalkan semua kebahagiaanku. Berilah aku beberapa foto yang kau potret waktu itu, saat kita berbahagia waktu bersama-sama. Walaupun aku bersedih setidaknya aku ingin melawan lupa,bahwa aku pernah berbahagia.

Jika ingin pergi, pergilah tanpa segan. Jangan menghalangi pintu hatiku, masih ada perempuan yang dengan kesederhanaannya tiba-tiba ingin masuk ke ruangan ini.

Menanyakan perihal siapa aku.

Aku terbuat dari sajak-sajak kerinduan, yang selalu dirindukan.
Atau kamu yang terbuat dari serpihan kegelisahan, yang hanya mengelilipi mata hatimu sendiri.

Jika benar, tanpa sesal. Pergilah.

Dan,
Bila kau tidak menemukan rumah sebagai tempat untuk meneduh, jangan sekali-kali kembali atau bertamu ke hatiku. Karena saat kau kembali, aku sudah tidak punya hati.

Memikirkan dua kata, antara kekecewaan dan arti kehilangan

Aku Menulis Dalam Gelap




Kini,
Berbeda dengan waktu yang lalu.
Waktu dimana aku selalu membuatkan lagu,
Kepada kekasih yang mendiami hatiku.

Kini,
Di suatu malam, aku selalu terpejam.
Memikirkanmu dalam diam.
Sampai aku terjatuh ke suasana kelam.

Aku menulis dalam gelap, mencoba bermain dengan jari-jemariku.
Memaksakan mata ini untuk terus melihat panggung kata, agar jari-jemariku tak tersandung saat berdansa.
Pikiranku akan terus berkerja, tapi apadaya? Hati ini menolak untuk pembuatan suatu karya.
Sulit menulis dalam gelap.

Aku terus mencoba untuk menulis dalam diam.
Namun memang sulit menyusun kata dalam gelap.
Mencoba menggabungkan hati, pikiran dan jemari.
Namun mata ku merasa iri, karena tak pernah kuteriaki.

Masih saja terjebak di masa lalu.
Saat mata lelah dan sayu, pikiran pun begitu cepat berlalu.
Tak terasa air mata mengguyur pipiku.
Masih ada jemariku yang ingin menyapu.


“Saat hati sedang kelam, tenangkanlah dirimu. Lalu tulislah apa yang ingin kau tulis. Tapi, jangan menulis pada kegelapan. Ia akan ikut serta mengelamkan hatimu” 

You And My Broken Heart

  
YOU AND MY BROKEN HEART

Di kala mendung kian menyelimuti hati ini, hanya rasa sakit yang bisa aku rasakan. Entah mengapa dengan diriku ini.

Tiara adalah seseorang yang selalu menghiasi hariku. Bisa dikatakan ia adalah kekasihku. Hubungan kami semakin hari semakin rumit, berbagai macam masalah telah kami hadapi, bahkan hampir beberapa kali kita akan berpisah karna sudah terlalu lelah. Namun ternyata takdir berkata lain, kita masih bisa bersatu. Dalam dekapan cinta.

Beberapa hari yang lalu aku mengajak Tiara untuk makan malam di sebuah Restaurant yang letaknya tidak jauh dari rumah. Kebetulan pada saat itu adalah hari jadi kita. Aku mengajak Tiara ke Restaurant ini dengan tujuan untuk mengingat masa-masa saat kita pendekatan 1 tahun yang lalu. Dengan waktu yang lumayan lama ini kita sudah saling mengerti berbagai hal. Baik dari segi kuliner ataupun pakaian.  Kita melewati makan malam dengan penuh canda dan tawa, saling suap menyuap adalah hal yang paling aku suka. Dengan penuh manja aku menyuapi Tiara, begitupun sebaliknya. Tidak jarang karena tak kuat menahan tawa atas lelucon yang Tiara lontarkan, aku membuat orang lain di sekitar terheran-heran. Saling curhat tentang kejaian lucu nan menarik di kampus adalah hal yang paling menyenangkan. Apalagi ketika melihat senyum dan tawanya yang lepas, membuat diriku semakin jatuh cinta padanya. Kebetulan kita berdua satu kampus, tetapi beda jurusan. Otomatis aku bisa mengantarkan ia pergi dan pulang secara bersamaan.

Sepulang dari makan malam, sekitar pukul 20:30 WIB, Aku mengantar Tiara pulang kerumahnya. Tak lupa aku mencium keningnya, lalu aku bertanya, “Tiara, kamu besok ada waktu kosong?” tanyaku. Dengan penuh keraguan yang sudah tergambar jelas di wajah cantiknya, lalu ia menjawab,A.. a.. aku gatau deh.”. Tanpa bertanya lagi aku langsung meninggalkan Tiara yang berdiri membelakangi pagar rumahnya.

Keesokan harinya, setelah beberapa jam fajar mengeluarkan sinarnya, aku bersiap untuk pergi menimba ilmu. Aku mempersiapkan perlengkapan seperti biasanya. Motor telah aku nyalakan, lengkap dengan pengaman kepala yang telah aku gunakan.
Lalu, selang beberapa menit ada yang terlintas di pikiranku.
“Ah iya, aku harus ke rumah Tiara untuk berangkat bareng.”
Sesampainya di sana, aku pun berjalan memasuki area rumahnya. Dengan gagah, aku mengetok pintu yang terbuat dari kayu jati itu. Tidak ada yang menjawab. Mungkin sekali lagi. Pintu pun terbuka, namun itu bukan Tiara. Itu adalah Mamahnya.
 “Nak, kamu.. cari Tiara ya?”
Iya bu, hehe.. Tiara nya udah rapih, bu?”
Loh, tadi bukannya dia udah berangkat?”
Ha? Yang benar?”
Iya benar, tadi dia sudah disamper sama cowok. Katanya sih itu temennya.”
Oh, si Tiara nitip pesan nggak, bu?”
Nggak tuh, dia gak pesan apa-apa. Hey, Ini udah jam berapa, keburu telat loh..”
Oh iya bu, Kalo begitu. Saya berangkat dulu ya..”

Sesampainya di Kampus, aku tidak melihat sosok Tiara. Aku pun menanyakan ke teman dekat Tiara, “Kamu lihat Tiara nggak?” tanyaku. “Oh Tiara.. itu dia di kantin lagi makan.” jawabnya. Dengan itu aku pun mulai terasa lega bahwa Tiara benar sudah berangkat ke kampus. Lalu aku berjalan ke kantin untuk bertemu Tiara. Tak disangka-sangka, aku melihat Tiara sedang berduaan dengan cowo yang mungkin diceritakan Mamahnya tadi. Aku pun mengalihkan pandangan dari Tiara.
Perasaan aku sangatlah cemburu, sebab ini bukanlah sekedar teman. Mereka berdua sangat romantis, yang kulihat pada waktu itu adalah mereka melakukan hal yang sama ketika aku mengajak makan malam kemarin. Tiara sangat senang, beberapa kali mereka saling suap menyuap. Dengan berat hati aku meninggalkan kantin dan masuk ke kampus dengan tujuan tidak ingin hati ini hancur.
Aku tidak bisa berkonsentrasi, pikiranku hanyalah berisi tentang kejadian di kantin tadi. Sesekali aku ditegur Dosen karena melamun.

Hari ini Tiara benar-benar lupa denganku, entah apa yang merasuki pikiran dan hatinya. Ternyata, cowok itu yang mengantarkannya pulang. Tidak tinggal diam, aku mengikuti mereka berdua. Sesampainya di rumah Tiara, aku pun mengintip mereka dari belakang mobil. Mereka mengobrol tentang suatu hal. Nampak jelas raut wajah mereka berdua. Sangat bahagia. Setelah mengobrol, cowok itu pamit pulang dengan Tiara. Namun hal yang tak kuduga begitu saja terjadi. Cowok itu mencium kening Tiara, sama seperti aku mencium kening ia sebelum aku pulang. Dengan hati yang sangat hancur, aku kembali ke rumah dengan membawa kendaraan setengah sadar.
Lantaran curiga, aku ingin mengajak Tiara untuk makan malam.
Aku pun meneleponnya.
 “Hallo Tiara, kamu lagi ngapain?”
Aku lagi sibuk. Emangnya kenapa?”
Hmm.. malam ini kamu bisa makan malem bareng aku nggak?”
Kan udah aku bilang, aku lagi sibuk hari ini!”
Tiba-tiba berbunyi suara yang menandakan panggilan telah terputus.
Rasa curiga kian mengantui pikiranku. Tanpa basa-basi, aku berangkat kerumah Tiara. Aku tak memikirkan seberapa sibuk ia, tetapi yang aku tahu Tiara jarang sekali sibuk. Sebelum sampai rumah Tiara aku melihat seseorang yang berdiri di depan rumah Tiara dengan pakaian yang rapih, ia seperti menunggu sesuatu.
Jangan-jangan ini cowok yang tadi, dan sekarang ia sedang menunggu Tiara., hati kecilku berbicara.
Ternyata benar. Tiara pun keluar dari rumahnya.
Dengan rasa penasaran yang begitu dahsyat, aku pun mengikuti mereka yang mengarah ke sebuah restaurant, yang tak asing lagi bagi Tiara. Restaurant itu adalah restaurant yang kemarin aku datangi bersama Tiara.
Sementara mereka masuk ke Restaurant itu, aku berdiam diri di luar. Mungkin kebetulan, mereka duduk di dekat jendela. Aku pun bisa melihat mereka dengan jelas. Cuaca pada saat itu sedang tidak mendukung. Hujan turun dengan begitu deras, aku pun terpaksa terguyur oleh hujan karena posisiku di sebuah lapangan parkir. Tidak ada tempat untuk meneduh.
Dengan rasa sakit, aku tetap memperhatikan meraka. Tak lama kemudian, datang seorang penyaji yang membawakan sebuah makanan. Cowok itu sangat romantis. Ia bercanda dengan Tiara ketika makan, saling suap-menyuap. Dan sesekali ia tertawa karena guyonan yang dilontarkan Tiara. Aku hanya bisa berdiam diri diguyur hujan.
Tiba-tiba Tiara melihat ke arahku.
“Sial.. aku ketahuan.
Tanpa fikir panjang, aku langsung meninggalkan tempat itu. Tiara dengan cepatnya beranjak dari lelaki yang ada di hadapannya, untuk mengejar seseorang yang benar-benar sayang kepadanya. Aku.
Sesampainya di rumah, Beberapa kali ia menghubungiku lewat telpon. Sempat aku diamkan, namun karna aku sayang, aku angkat, tanpa mengeluarkan kata apapun.

Dengerin aku dulu.
“Please maafin.
“Aku bisa jelasin semuanya.”


Aku menutup telpon. Dan aku sadar,selama ini perjuangan ku sia-sia. Hanya rasa sakit yang aku dapatkan. Aku gak bisa memafkan Tiara langsung begitu saja, bagaikan tembok besar yang menghalangi hatiku ini. kata maaf tak lagi aku dengarkan. Kejadian ini benar benar menyayat habis hatiku.