ini hanya sementara



Aku tahu, semua ini akan terus berjalan selain waktu, yaitu adalah perasaan dan cara kita untuk berpikir. Jika waktu bisa dihentikan, aku lebih suka seperti ini, mengamatimu dari kejauhan, memperhatikanmu dalam diam. Teman-temanku pernah bilang, kalau aku terlalu lama untuk mengatakan semuanya, mengatakan yang sebenarnya. Ya aku paham.

Mungkin memang terlalu bodoh terus menunggu, dan mungkin aku memang tak pintar untuk menunjukkan. Aku bisa saja memberi perhatian, tapi aku tak seperti itu. Aku sedang senang memperhatikanmu dari kejauhan, menghafalkan setiap tingkah lakumu, seperti berbicara dengan sahabatmu, caramu menatap orang-orang disekitar, ya, hal-hal seperti itu. Bahkan jika aku beruntung, aku bisa mendekatimu dan mendengar suaramu, jika beruntung.

Sebetulnya aku bisa saja berteriak keliling kelas untuk mencari perhatianmu, tapi tidak. Aku tidak akan melakukannya. Atau, memberimu buku-buku bagus yang sudah pasti kamu suka, ah, aku ingin sekali hal itu, memberi kejutan-kejutan kecil untukmu. Tapi tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Atau aku juga bisa mengobrol lewat WhatsApp atau BBM untuk sekedar bersapa, “hai, lagi apa?” lalu kamu membalas pesanku. Nomor teleponmu? Dan Pin BBMmu? Aku sudah lama mencari tahu, aku sudah tahu semuanya. Tapi tetap tidak. Aku tidak akan melakukannya. Aku sudah bilang bukan? aku tidak akan mencari perhatianmu, aku lebih suka seperti ini, memperhatikanmu sembunyi-sembunyi.

Terkadang, godaan begitu besar untuk menunjukkan betapa ingin sekali aku melihatmu sepanjang waktu, dan berbincang denganmu. Atau kita bisa berjalan-jalan menikmati sore hari di taman,berlama-lama mengobrol tentang suatu hal, memandangimu saat tertawa dan berdebar-debar ketika matamu berkilauan terkena matahari atau lampu kota. Aku tidak bisa bohong dengan itu, aku benar-benar ingin melakukan banyak hal denganmu.

Sayangnya, aku tak bisa melakukan itu, kalau aku melakukannya, mungkin sama saja aku melukai hatiku sendiri. Jadi ya, biar saja seperti ini, menjadi seorang yang menperhatikanmu sembunyi-sembunyi. Aku terlalu takut, karena mungkin kamu mempunyai banyak alasan untuk menolakku, jadi ya lebih baik seperti ini, mungkin ini hanya sementara.

Jika ada yang bertanya, apa aku tidak lelah seperti ini? jawabannya, tentu saja lelah sekali. Tapi keinginanku untuk mengetahui semua hal tentangmu tidak bisa berhenti. Jadi, tidak masalah. Ini hanya sementara.

Waktu terasa cepat sekarang, beberapa bulan atau minggu lagi kita akan berpisah, dan dunia baru saja dimulai. Entah kamu mau melanjutkan kemana, mencari kerja atau mencari tempat untuk meperdalam ilmu-ilmu yang kamu rasa kurang. Jarak bukan masalah, tapi mungkin komunikasi kita, dibagian itu.

Semua yang sebenarnya aku lakukan itu memang tak ada gunanya. Mencari tapi sembunyi-sembunyi. Memang sedih ya, hati terlalu sering mengelabui logika. Logikaku tahu, kamu akan pergi dan tidak akan pernah mencariku, tetapi hati mengatakan,tunggu dulu, aku belum merampungkan semuanya, berilah sedikit waktu.

Aku takut, logika mungkin akan selalu memberikan faktanya. Tapi aku berharap logikaku salah besar. Dan itu semua ada di dalam diri kamu.

Aku akan terus menunggu, tentang berpisah? mungkin ini hanya sementara.

“kalau hari ini adalah hari terakhir kita untuk bertemu dan berbicara, aku berpesan jaga dirimu baik-baik”

Surat Untuk Si Perempuan



Tetiba aku merindukanmu, siang hari menuju petang, senyummu masih membentang dalam ingatan. Perempuan yang parasnya selalu menggantung dipikiran, membuatku lupa arah jalan pulang.

Entah perkenalan singkat malam itu, membentuk kisah tersendiri dalam buku baru didalam kalbu. Setiap malam, kutatap layar ponselku, mengharap pesan balasan darimu. Malam ini gelap semakin pekat, cahaya lampu pijar semakin meramaikan sudut kota.

Keasyikanmu terlalu membunuh jiwa humorisku, aku tak menyangka akan se-senang ini. mungkin dipikiranmu, aku terlihat bodoh, semata-mata aku ingin terus mengabadikan senyum konyol dan tawa bahagiamu itu, bahkan untuk bertindak dewasa saja aku tak sempat.

Kesenanganku terhadapmu tak berbeda jauh dengan kesenanganku terhadap kopi, ini adalah obat patah hati terbaik. Ingin sekali aku dan kamu duduk bersama, menyandingkan dua cangkir kopi dalam satu meja. Mungkin bila nanti akhirnya bukan aku yang kau pilih, setidaknya kopi kita pernah bersanding di satu meja berbagi perasaan bertukar pikiran.

Malam ini, setelah bercumbu dengan secangkir kopi Toraja, aku mulai mulai melukiskan kata-kata, memanggil hadirmu yang pernah melibatkanku pada sebuah kesedihan yang menimpamu. Kau selalu berhasil menyalakan bara dalam ingatan yang memuai bersama lahar kecemasan.

Bersamaan dengan ampas kering di dasar cangkir, goresan tentangmu kembali ku ukir.

Tulisan adalah cara terbaik untuk berperilaku jujur, setidaknya pada diri sendiri. Sebenarnya, masih banyak yang ingin kutuliskan semua yang ada dalam pikiran, tapi setelah ku pegang pena, hilang semua akal. Gemetar tanganku. Setelah aku tahu, teringat bahwa kau sedang memiliki hubungan spesial dengan lelaki yang juga baru kau kenal. Niatku untuk menulis buyar dengan hebohnya.

Yang tersisa hanyalah kecemasan yang mengaratkan kerinduan, membisukan suara hati yang merintih perih, meneriakkan kebohongan, “aku bisa rela hidup tanpa kehadiranmu.” Semua perasaan terlepas begitu saja.

Ini, peganglah dan bawa pulang suratku ini. bacalah dengan hati yang suci, disana banyak perasaanku yang ingin berteduh di hatimu, dari kisah bahagianya aku dulu, sampai berdukanya aku yang sekarang.

Bila kau tertarik ingin membaca, bacalah. Aku takkan memaksa. Keputusanmu selalu aku terima, lagipula tak ada lagi yang harus diperjuangkan dari hati yang sudah dimiliki. Maka sebelum tulisan menjadi tangisan, lebih baik aku hentikan. Semoga setelah ini pelangi akan selalu menghiasi duka dan menerbitkan asa, karena semesta selalu berpihak pada yang berhak, termasuk aku dalam hal mencintaimu, dan kamu dalam hal mencintainya.

Aku tak tahu bagaimana cara merayakannya. Selamat menikmati patah hati, untukku dan hatiku sendiri.

Setelah Itu Ada Yang Datang


Perempuan adalah mahluk terbaper sepanjang sejarah. Saat ia kehilangan arah, kesedihan pasti datang di kedua matanya yang kian me-merah.

Hujan di malam hari, siap menemani hati yang dilanda sepi sampai pagi. Mungkin ini pertanda bahwa ada patah hati yang muncul terlalu pagi. Aku tak bisa tidur semalam, saat mataku menangkap senyummu, berdebar rasanya.

Ada sesuatu yang mengganjal dipikiran, apa kau tak muak melihat muda-mudi betapa bahagianya  mereka mempunyai kekasih, padahal untuk memakai baju saja masih meminta bantuan Mami? Jika iya, kita mempunyai pemikiran yang sama. Bahwa cinta ada untuk menjaga kenyamanan, bukan gelora kejuaraan untuk dipamerkan dan disombongkan.

Begitulah aku, menertawai kisah mereka.

Menangisi dahulu yang kini menjadi luka.

Malam itu, kesedihan muncul di paras cantiknya. Melunturkan karunia yang Tuhan berikan.

Kudengar kau tengah mengalami kebingungan hati, jika benar begitu, kemarilah, singgahlah sejenak dan nikmatilah pahit termanismu. Duduk yang tenang, dan jangan panik. Biar aku seduhkan kopi untuk menemani sedihmu. Pahit memang, yang maniskan senyummu, kau lupa ya?

Hei, lihat lah cermin, perhatikan baik-baik, bisa-bisanya paras mempesona itu lupa cara bahagia? Bila kau lupa membawa cermin, jangan khawatir. Mendekatlah, aku bersedia di sampingmu saat kau sedang buruk rupa. Berkacalah di bola mataku, disitu kau selalu mempesona, cantik seperti biasanya.

Berceritalah panjang lebar, telingaku terbuka untuk cerita-ceritamu. Jika kau ingin marah, bagikan kepadaku jangan kau simpan sendiri. Bila kau merasa sedih bagikan kepadaku, agar aku bisa ikut merasakannya. Ambilah hariku untuk kebahagiaanmu, karena kesedihan itu fana, bahagia yang abadi.

Tak ada lelaki yang bisa menandingi kesabaran yang aku punya, setelah itu ada yang datang diceritamu, sosok yang kau tangisi baru saja kau sebutkan namanya, kau menceritakan dia didepan mataku. Tak bisa rela katamu, lelaki yang kau puja ingin pindah ke lain kota.

Se-sayang itu dirimu? Hei lihat lah diriku, yang masih tegar walaupun wanita pujaan nya kelain hati, bukan hanya sekedar pindah ke lain kota.

Aku mencoba menenangkan perasaanku dan kesedihanmu, apa kau bisa menahan kesedihan sendirian? Cobalah simpan kesedihanmu, bela lah perasaanku sesekali. Kau seharusnya paham, selalu ada hati yang miris dibalik orang humoris.

Saat ini aku sedang menertawai tangis, menangisi tawa.

Kesedihanmu tak seberapa dengan kesedihan yang aku alami. Mungkin kau memang tidak tahu, memang sakit cinta dalam diam.

Diam-diam sayang.
Diam-diam cinta.
Diam-diam kau duduk di pelaminan.


Hal paling terkejam dari perasaan adalah mencintai diam-diam namun mengharap ditemukan.

Tanggal Ku Turun Ke Bumi


Dari sana, tempat dimana kembang api bermunculan tanpa henti, melepaskanku penuh keikhlasan untuk turun ke bumi. Aku tak pernah paham mengapa Tuhan menciptakanku, mungkin ada sesuatu yang spesial, dan Tuhan menyuruhku untuk mencari tahu. Di tempat yang terbangun oleh sayap rapuh kupu-kupu, aku meminjam debu untuk terus ikut menempel disetiap kepaknya. Dengan rasa penuh harap, dari sana mungkin aku bisa mencari jawabnya.

Penantian panjang ibu dan bapak telah bermuara dihari itu, segala rindu ingin jumpa bercampur aduk dengan rasa bahagia, haru dan duka. Tangisan pertamaku sangat merdu di telinga mereka, seakan mereka ingin cepat memeluk tubuh lemahku. Mungkin aku tak paham, mengapa mereka tersenyum melihatku.

Semua sanak saudara mengucapkan selamat, ibu dan bapak dihari itu telah resmi mempunyai jagoan kecil, lelaki gagah yang tumbuh menjadi pria pemberani kelak. Dan mulai hari itu, semangat seorang bapak menjadi lebih giat, apapun ia lakukan demi kesehatan dan tumbuh kembang seorang anak pertamanya.

Hari begitu sangat cepat berlalu, berkat kasih sayang ibu dan bapak, aku bisa merasakan sekolah. Mengenal huruf, angka, dan beberapa hewan yang kupandang aneh saat itu. Aku masih ingat betul, ketika aku belajar membaca bersama ibuku di rumah, ibuku selalu mengiming-imingkan sesuatu yang kusuka, agar semangatku untuk membaca akan terus berpacu.

Menginjak bangku sekolah dasar, mengenal teman adalah kewajiban yang harus dilakukan, kata ibu. Aku selalu dituntut untuk berteman dengan siapa saja. 6 tahun berlalu, di sekolah dasar kurasa cukup untuk naik ketingkatan selanjutnya.

Tak terasa aku sudah menginjak bangku di kelas 7 sekolah menengah pertama. Dari situ aku mulai mengerti sifat manusia satu-per-satu, aku mengerti bahwa berbagi sangatlah berarti, aku mengerti apa yang guru tugaskan, sudah kewajiban murid untuk mengerjakan, dan aku mengerti bahwa dibalik tugas ada hukuman yang selalu menghantui.

Beberapa tahun berlalu, sekolah kejuruan memang impianku. sampai akhirnya tulisan ini dibuat detik-detik dimana aku menginjak usia 17 tahun, aku bersyukur bahwa selalu ada kisah di masa lalu yang asyik untuk dibicarakan. Aku tak pernah paham bagaimana Tuhan menciptakan hati untuk akhirnya setiap manusia memiliki perasaan.

Walau kini segalanya telah mengalami perubahan, aku masih saja menyimpan sifat kekanak-kanakan. Terus memohon agar Tuhan membantuku terus berjalan di jalan pendewasaan.

Pukul setengah dua belas malam ini, dari kamar yang berpenghuni diriku seorang, aku memaksa menyelinap di antara semak-semak, menuju deret melintang nyala lampu kota, pikiran terus memaksaku untuk terus memikirkan bagaimana untuk terus hidup di masa depan, membahagiakan orang-orang yang kucintai, dan mencintai orang-orang yang kusayangi.

Diantara beribu doa, doa orang tua dan kalianlah yang membuatku se-semangat ini. terima kasih doa dan ucapannya!

Terima kasih, Terkasih



Ucap syukur, berterima kasih kepada Allah SWT sang Mahapemberi segala kisah, baik berujung sedih maupun berujung indah. Terimakasih telah memberi pelajaran bahwa setiap luka akan menambah ketabahan dan selalu ada keindahan untuk dikisahkan.

Untuk Ibu, perempuan satu-satunya di dunia yang tulus memberi banyak cinta, mengajarkanku sebuah arti sederhana, yang selalu memberi kasih sayang tanpa pamrih, dan memberi wejangan kala hati dilanda perih.

Untuk Bapak, lelaki hebat di dunia, menghidupkan keluarga kecil kami dengan keringatnya, yang selalu menyajikan riuh keluarga penuh rasa sayang, membuatku selalu rindu akan rumah terutama saat jauh dan lelah membutuhkan pulang.

Untuk Sahabat,Teman rumah, Kakak-kakak, juga adik-adik. Terima kasih telah memberi ruang untuk berekspresi yang begitu bebas dan selalu menjadi keluarga yang membanggakan. Semoga semakin asyik dan kita segera piknik.

Tim sepak bola Tunas Harapan FC, yang menjadi awal langkahku mengikuti debut pertamaku untuk berkompetisi tahun 2011 yang lalu. Terima kasih telah membuatku mengerti bahwa kompetisi itu fana, keluarga yang abadi.

Musisi Indonesia yang telah menciptakan lagu-lagu hebat pengusir kehampaan. Tanpa mereka, kesunyian tak akan pernah menyenangkan.

Teman-teman pembaca kisahku di blog, setiap orang yang pernah aku temui untuk berbagi cerita dan referensi tentang hati, terima kasih atas waktunya.

Guru-guru yang telah memberi sumbangsih besar terhadap kemajuan ilmu, terima kasih telah memberi seluruh ilmu untuk membangun masa depan kami. Pengalaman kalian telah menggurui kami.

Lalu kepadamu, yang pernah mengisi kekosongan hati kemudian pergi tanpa balas janji, terima kasih. Jika bukan karena luka yang kau beri, aku tak akan pernah bisa menulis sekumpulan kisah-kisahku ini.

Tulisanku biasa saja, senyum dan bahagiamu yang membuatnya sempurna.

Jakarta, 2016.

Sebuah Awal Dari Babak Baru


“Semoga tidak ada lagi kekecewaan yang berserakan di tahun ini”
Kamu pasti punya sesuatu yang bahkan kamu terus mencoba untuk menggapainya.

Aku pun demikian.

Tahun lalu biarlah berlalu,
Luka lama biarkan perlahan menghilang walaupun meninggalkan bekas. Ketahuilah bahwa sesakit-sakitnya rasa perih pasti akan hilang juga.

Mungkin di tahun kemarin, kamu memang sedang terpuruk. Sering terjatuh lalu menimbulkan luka. Tapi mungkin di tahun ini, di balik rasa letihmu, ada orang yang membantumu untuk berdiri lagi. Yang terus menuntunmu untuk berjalan perlahan, meninggalkan keterpurukan.

Saat itu kamu tahu, bahwa hidup itu untuk masa depan, bukan masa lalu.
Kamu dituntun untuk terus berjalan ke depan olehnya, berjalan mencari kebahagiaan bersama. Kamu juga pasti nanti akan berhenti di tengah jalan, dan teringat masa lalu. Tapi dia akan sering menegurmu, “sesekali ratapilah masa lalumu.” Lalu kamu pun tersentak dengan kata “ratapi” dan kamu pun berfikir kalau selama ini kamu memang membuang-buang waktumu untuk meratapi masa lalu, terus mengingat rasa sakitnya.

Tapi tak apa,
Dia percaya, kamu tidak akan balik lagi ke masa lalu, melebihi kepercayaan kepada dirinya sendiri.

Biarkan semua mengalir, sampai akhirnya untuk menoleh kebelakang pun, kamu hanya tersenyum, karena semua sudah tidak seperti dulu lagi. Masa lalu hanya pantas untuk di kenang dan mustahil untuk balik ke masa itu. pun jika bisa, semua tak lagi sama.

Kamu pun terus berjalan. 
Hidup memang penuh dengan lika-liku, banyak batu kerikil di jalan, teruslah berjalan. Dan jika suatu saat nanti kamu terjatuh, rasakan sakitnya dan jangan lupakan bahwa rasa sakit mu itu bisa sembuh dengan sendirinya, yang perlu kamu lakukan sekarang hanya berdiri lagi. Kejar kebahagiaanmu dimanapun ia berada.  Kali ini berjalanlah lebih cepat, kalau perlu berlarilah, sekencang yang kamu bisa. Nanti pada akhirnya kamu berhenti di titik yang paling nyaman dan kamu mungkin berkata, “ini, disini banyak kebahagiaan.”

Jika kamu sudah menemukan kebahagiaan pertahankanlah itu. Sekuat yang kamu bisa, pun jika itu kamu menemukannya, sebarkanlah. Jangan khawatir, kebahagiaan tidak akan pernah habis.
Jangan takut gagal untuk mempertahankan, setidaknya kamu sudah lebih baik dari masa lalumu bukan? Jadi, teruslah mempertahankan apa yang pantas untuk dirimu.

Dengannya, tahun ini kamu lebih berwarna. 
Jangan terus mengeluh, ia pasti akan selalu menemanimu. Yang senantiasa mebantumu untuk terus berdiri sampai berlari. Sampai kamu lupa bahwa kamu dulu hampir mati dibunuh sepi.

Kamu sudah punya kebahagiaan ditahun ini, kamu bisa bercerita dengan orang tua, sahabat dan teman mu. Kamu bisa menjelaskan seberapa sakit perjuanganmu untuk berdiri dan menjelaskan dengan rinci dan teliti, “Aku masih sayang, tapi aku sering sakit hati. ini semua karena ..." dan berakhir dengan, "Pada akhirnya aku bisa melepaskanya.” Senyuman membinar setelahnya.

Kamu pasti bahagia dengan kata akhir itu nanti, ada seseorang yang membantumu perlahan melepaskan setiap bayang yang telah meninggalkanmu dan menelantarkan hatimu yang berserakan. Yang teganya membuat luka yang lama sembuhnya. Ia selalu membantumu merapikan hatimu agar tetap utuh.

Cepat atau lambat ia pasti datang di waktu yang tepat. Dan aku percaya itu.

Aku menulis ini untuk diriku dan untukmu,

Jika kamu merasakan sakitnya terjatuh, bacalah tulisan ini. Setidaknya aku ingin membantumu menghilang rasa pedih dan perih, dan aku juga ingin membawa lari rasa sakit mu lewat tulisan ini.

Karena harapan dan angan-angan baru harus di tata dari sekarang, dan yang perlu kamu ketahui, kamu harus berubah, jangan cari diri kamu yang dulu di masa lalu.

Karena tujuanku membuat tulisan ini, ada di kalimat pertama yang aku kutip di atas.

Jakarta, 
8, Januari, 2016

Dalam Sujud Aku Sering Bercerita Pada-Nya


“Sujud adalah tempat yang tepat untuk curhat”

Dengan mengucap syukur.
Izinkan aku bercerita untuk yang kesekian kalinya padaMu.

Ya,
Memang aku seorang hamba yang masih membutuhkan solusi untuk memecahkan suatu masalah.
Yang kutahu engkau maha mendengar dan sayang kepada hamba-hambanya.

Ini adalah masalah rumit, yang tak banyak orang bisa memecahkan itu seorang diri.
Dan tak banyak orang bisa memberi solusi yang pasti.

Maka, tolonglah aku memecahkannya dengan caraMu.
Aku pasrahkan semuanya saat ini, aku percaya rencanaMu pasti luar biasa.

Aku memang lemah untuk masalah seperti ini, jujur aku bingung bercerita dengan siapa.
Untungnya aku selalu ingat, engkau selalu ada di sampingku.

Di mana aku berada engkau selalu ada, disaat hati gelisah engkau pasti tahu.

Aku pusing memikirkannya, berlarut-larut aku bingung harus bagaimana dan bertindak apa.
Engkau pasti senang,mendengarkan ceitaku. Aku pun juga begitu. Aku selalu senang bercampur haru masih ada engkau saat aku tidak ada teman untuk bercerita.

Setiap pagi aku selalu memohon padaMu, semoga hariku menyenangkan dan tidak banyak orang yang bermasalah dengan tingkah laku yang tak pantas dariku.

Kadang kau mengabulkannya, kadang juga tidak. Aku berharap ketidak kabulan itu terkabul di suatu saat nanti jikalau aku sangat memerlukannya.

Terkadang aku sering berbuat salah.
Aku memang manusia dengan ribuan dosa, mulut kotorku masih sering melontarkan kata-kata yang sangat tidak wajar bila didengar. Tapi, tolong izinkan mulut kotorku untuk terus membesarkan namaMu.

Engkau adalah zat yang sangat aku rindukan, maka peluklah hatiku.
Taruhlah dunia di genggamanku dan jangan engkau taruh dunia di hatiku.

Yang kutahu, engkau sayang padaku.
Maka izinkan aku tuk terus bercerita denganMu

“Ingatlah Allah tak akan pernah meninggalkanmu sendirian dalam kelam dan gelap bila saat ini cahaya terang itu masih meremang bertahanlah dalam sabarmu Insya Allah kebahagiaan menantimu dalam ridha-Nya”


Di Balik Diammu, Kamu Sayang Aku


Dia adalah orang yang aku kagumi. Dalam seminggu ia menghabiskan waktunya untuk membanting tulang demi mencari nafkah. Setiap hari tanpa absen. Penuh semangat dan tanpa letih, pulang dengan wajah penuh debu dan lesu. Setibanya di rumah tak banyak perbincangan antara kita, karena ia terlebih dahulu tenggelam dalam lelapnya.

Yang kutahu, ada sosok yang tak kalah mulianya dari seorang Ibu. Aku mengenalnya sebagai lelaki yang tak banyak bicara.

Sosok itu bernama ayah.
Ibu sangat mencintainya, melebihi cintanya kepada dunia. Pernah jika aku berbuat salah, ia tatap mataku penuh ketulusan dan sambil tersenyum lalu berkata, “Jangan kau ulangi lagi.” Seketika mataku menahan butiran air dan lari ke kamar, air mata pun jatuh setelahnya.

Pernah aku meminta kepada ayah untuk membelikan sepatu baru, karena sepatuku yang sedang ku pakai sudah tak layak untuk ku pakai lagi. Aku tahu bahwa ayahku tak memiliki uang banyak. Kau tahu? Apa yang ayahku lakukan? Ia menatap mataku sambil berkata, “iya, nanti ayah belikan.” 

Sebuah jawaban tegas yang selalu aku ingat adalah kata “NANTI”. Ia tak pernah menolak permintaanku, ia pasti selalu mengucapkan kalimat itu. Dan aku belajar tentang menghargai perasaan orang saat itu.


Beliau adalah superhero di keluarga dan di kehidupanku. Sekarang sudah waktunya aku tuk belajar kerja, ini adalah pertama kalinya aku mengikuti prakerin. Selama dua bulan.

Ia mempunyai sifat heroik, yang rela mengambil cuti, rela untuk naik kendaraan umum ke tempat kerjanya, demi meminjamkan motor yang sering dipakai setiap hari untuknya bekerja, kepada anaknya yang sedang kesulitan transportasi.

Jujur saya merasa tidak enak pada beliau, sesak di dada, menahan tangis haru betapa mulianya ia.

Ia melakukannya dengan sukarela, demi anaknya yang sedang prakerin. Belajar kerja, belajar merasakan lelahnya mencari uang.


Sekarang saya tahu mengapa beliau selalu bilang, “belajar yang rajin.” Karena di balik kata itu ada banyak rasa letih dan cucuran keringat yang keluar di dahinya. Untuk men-sekolahkan anaknya.

Aku tak pernah tahu perihal apa yang membuatnya begitu kuat dan semangat menghadapi kerasnya kehidupan. Kokoh badanya tak begitu banyak berubah, kulitnya telah mengeriput – sebenarnya. Tapi ia tak pernah lupa akan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga yang misinya mencari nafkah bagi keluarga.

Satu hal yang kutahu sampai saat ini. Dalam diam kamu menyayangi aku dan keluargaku. Tetaplah bersamaku dan aku akan terus belajar mendewasa darimu.

Aku mencintaimu, Ayah.





“Impian yang menjadi nyata itu ada disetiap senyuman dan binar yang kau tinggalkan di bola mata mereka (orang tua). Bukan pada masa depan, yang dirimu sendiripun masih butuh tangan takdir untuk meraihnya”


Lukislah pelangi itu sebelum kanvas usia mereka habis dilukis senja.


Jakarta, 5 Desember 2015